Liquid dingin sudah menjadi salah satu karakter yang cukup mudah ditemukan dalam berbagai pilihan liquid. Mulai dari buah, minuman, sampai mint, sensasi ice bisa dipadukan dengan banyak karakter sehingga pilihannya terasa sangat luas. Tapi kalau dipikir lagi, kenapa liquid dengan sensasi dingin bisa begitu menarik bagi banyak orang? Jawabannya ternyata tidak hanya karena sensasi dingin terasa menyegarkan, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana tubuh dan otak manusia menerima serta memproses berbagai rangsangan sensorik secara bersamaan.
Ketika menikmati sesuatu, manusia sebenarnya tidak hanya mengandalkan satu indera. Rasa, aroma, suhu, dan sensasi yang muncul di mulut dapat saling memengaruhi persepsi terhadap sebuah pengalaman. Dalam ilmu sensorik, sensasi seperti dingin yang muncul dari senyawa tertentu termasuk ke dalam chemesthesis, yaitu persepsi terhadap rangsangan kimia yang menghasilkan sensasi seperti dingin, panas, atau pedas. Penelitian mengenai persepsi cooling dari menthol bahkan menemukan bahwa setiap individu dapat memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda terhadap sensasi dingin tersebut.

Sensasi Ice Bukan Sekadar Tambahan Rasa
Hal menarik dari sensasi dingin adalah bagaimana cooling dapat menjadi bagian dari keseluruhan pengalaman sensorik. Ketika sebuah karakter buah dipadukan dengan ice, misalnya, pengalaman yang diterima tidak lagi hanya berfokus pada karakter buahnya. Ada sensasi tambahan yang ikut diproses tubuh sehingga karakter yang sebenarnya sudah familiar dapat memberikan pengalaman yang berbeda.
Penelitian sensorik juga menunjukkan bahwa cooling dapat berinteraksi dengan persepsi rasa. Studi yang diterbitkan pada 2025 menemukan bahwa menthol dalam konsentrasi tertentu dapat meningkatkan persepsi manis dalam larutan yang diuji, meskipun efek tersebut tidak terus meningkat ketika konsentrasinya terlalu tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa sensasi dingin dan persepsi rasa tidak selalu bekerja secara terpisah, melainkan dapat saling memengaruhi.
Dalam konteks pilihan liquid, hal tersebut membantu menjelaskan mengapa satu karakter dapat terasa berbeda ketika mendapatkan sentuhan cooling. Mango tetap memiliki karakter mango, grape tetap memiliki karakter grape, dan lychee tetap memiliki karakter lychee. Namun, ketika sensasi ice menjadi bagian dari pengalaman, ada dimensi sensorik tambahan yang membuat karakter tersebut tidak terasa persis sama seperti versi tanpa cooling.

Kenapa Karakter Dingin Bisa Terasa Menarik?
Selain faktor sensorik, preferensi terhadap liquid dingin juga dapat dilihat dari bagaimana manusia merespons sensasi yang berkaitan dengan suhu. Kita sudah terbiasa menghubungkan sesuatu yang dingin dengan pengalaman tertentu dalam kehidupan sehari-hari, seperti minuman dingin, es krim, permen mint, atau minuman dengan tambahan es. Karena itu, sensasi dingin sendiri sudah memiliki asosiasi yang cukup kuat dalam pengalaman sensorik manusia.
Menariknya, penelitian terbaru mengenai preferensi sensorik menunjukkan bahwa konteks lingkungan juga dapat memengaruhi ketertarikan seseorang terhadap sensasi tertentu. Studi pada 2025 mengenai preferensi sensorik es krim menemukan bahwa partisipan lebih menyukai atribut yang berkaitan dengan cooling dalam konteks musim panas, sementara atribut seperti richness, smoothness, dan milkiness lebih disukai dalam konteks musim dingin.
Artinya, preferensi sensorik tidak selalu bersifat mutlak. Apa yang terasa menarik dapat dipengaruhi oleh konteks, pengalaman, dan karakter sensorik yang sedang dicari. Hal ini bisa menjadi salah satu alasan mengapa seseorang pada kondisi tertentu lebih tertarik pada karakter yang memberikan sensasi dingin, sementara pada kondisi lain justru mencari karakter yang terasa lebih rich atau smooth.
Setiap Orang Bisa Punya Tingkat “Dingin” yang Berbeda
Hal lain yang penting untuk dipahami adalah tidak semua orang merasakan cooling dengan intensitas yang sama. Penelitian terhadap 198 partisipan menemukan adanya kelompok individu dengan sensitivitas cooling yang berbeda ketika diberikan berbagai konsentrasi menthol. Ada kelompok yang kurang sensitif, semi-sensitif, dan lebih sensitif terhadap sensasi dingin.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa ketika seseorang mengatakan sebuah liquid terasa “pas dinginnya”, pengalaman tersebut belum tentu akan dirasakan dengan cara yang sama oleh orang lain. Bagi seseorang, cooling mungkin cukup terasa sebagai pelengkap karakter utama, sementara orang lain mungkin lebih menyukai sensasi yang lebih dominan. Karena itu, memilih liquid dingin pada akhirnya tetap kembali pada preferensi masing-masing.

Hal ini juga membuat eksplorasi menjadi bagian yang menarik. Kamu bisa menemukan karakter buah dengan cooling yang berbeda, mencoba karakter minuman dengan sensasi ice, atau memilih karakter mint ketika memang ingin sensasi dingin menjadi bagian yang lebih menonjol. Jadi, liquid dingin tidak harus dipahami sebagai satu karakter yang seragam karena setiap kombinasi tetap dapat memberikan pengalaman yang berbeda.
Jadi, Kenapa Liquid Dingin Banyak Digemari?
Kalau melihatnya lebih jauh, popularitas liquid dingin tidak hanya berkaitan dengan sensasi “dingin” itu sendiri. Cooling memberikan rangsangan sensorik yang berbeda, dapat berinteraksi dengan persepsi rasa, dan tingkat sensitifitas terhadap sensasi tersebut juga berbeda pada setiap individu. Ditambah lagi, karakter ice bisa dipadukan dengan banyak pilihan lain sehingga pengguna tetap memiliki ruang untuk menentukan karakter utama sesuai preferensinya.
Jadi, kalau kamu menyukai liquid dingin, mungkin alasan sebenarnya bukan sekadar karena ingin mendapatkan sensasi ice. Bisa jadi kamu menyukai bagaimana cooling mengubah pengalaman karakter buah, minuman, atau mint yang sudah kamu kenal. Pada akhirnya, yang membuat liquid dingin menarik adalah kombinasi antara karakter utama, sensasi cooling, dan bagaimana tubuhmu sendiri mempersepsikannya.
Yuk, eksplor berbagai pilihan liquid dari MOVI dan temukan karakter dengan sensasi ice yang paling sesuai dengan preferensi kamu.